Dampak Positif Tambang Rakyat untuk Perempuan

Perempuan/ibu-ibu bekerja memecah batu (ngagepreg) sebelum diolah dalam Gelundung/Tromol.

Ada puluhan sampai ratusan perempuan dan ibu-ibu yang bekerja dalam rantai proses kegiatan pertambangan emas rakyat di Cigaru, Sukabumi.  Setelah batu yang mengandung emas atau yang biasa disebut rep diperolah para penambang dari dalam lubang tambang, rep tersebut harus dioleh lebih lanjut agar didapatkan emas murni atau emas yang bercampur perak atau yang sering disebut bulion.

Sembilan puluh sembilan prosen penambang yang turun ke lubang adalah laki-laki karena sifat pekerjaannya yang sangat beresiko dan membutuhkan tenaga yang besar.  Namun setelah material sampai kerumah atau tempat penampungan, peranan perempuan mulai meningkat.  Pertama biasanya perempuan mengerjakan pemecahan/penghancuran batu tingkat pertama, yaitu batu hasil penambang yang berkisar kepalan tangan harus dihancurkan dengan palu/martil sampai seperti pasir kasar.  Tujuannya ketika material dimasukkan ke gelundung/tromol akan mempercepat waktu penghalusan 3-5 jam.

Untuk biaya memecah batu atau ngagepreg ini biasanya diupah Rp 25.000,- per karung (+30 Kg). Tergantung karakter batuan materialnya, ada yang sangat keras tapi ada juga yang agak remah.  Rata-rata ibu-ibu bekerja 4-6 jam setiap hari dan bisa menyelesaikan 3 s/d 5 karung.  Dalam bekerja, sebagian ibu-ibu melakukan sambil mengasuh anak-anak dan bersosialisasi diantara ibu-ibu.  Pekerjaan memecah batu yang tidak terlalu membutuhkan skill merupakan kesempatan yang sangat baik untuk para perempuan dan ibu-ibu mendapatkan penghasilan tambahan dalam mengisi waktu luang.  Itulah sebabnya, hampir semua perempuan dan ibu-ibu di desa-desa Cigaru atau di daerah pertambang rakyat sangat bahagia kalau kegiatan tambang rakyat di daerahnya bisa berlangsung secara terus-menerus dan aman.  Karena selain memberi kesempatan sebagian besar rakyat pedesaan memperoleh pendapatan yang baik, juga semua perempuan dan ibu-ibu memiliki kesempatan mendapatkan uang tanpa harus bekerja di pabrik atau menjadi pembantu di kota, atau bahkan mereka tidak perlu menjadi TKI dan TKW di luar negeri.

 

One comment

  1. APA DAMPAK YANG DI TIMBULKAN?

Leave a Reply